Di Pusara Ayah dan Ibu, Saya Menemukan Diri Saya

Uncategorized39 Dilihat

Di Pusara Ayah dan Ibu, Saya Menemukan Diri Saya

Aceh, ulaskasus, com
Renungan Pribadi – Alfian Tob
Berbicara tentang ziarah kubur, ini bukan ceramah untuk siapa-siapa.

Ini bukan untuk menggurui. Ini adalah percakapan saya dengan diri saya sendiri. Tentang perjalanan hidup, tentang jatuh bangun, tentang doa orang tua, dan tentang satu kepastian: kita semua akan kembali.

Tahun 1982 saya meninggalkan kampung halaman. Saya pergi dengan dada penuh mimpi, dengan keyakinan bahwa dunia di luar sana akan memberi saya masa depan. Di kampung itulah ibu saya tercinta dan ayah saya kelak beristirahat untuk selamanya.

Saat itu saya belum mengerti, bahwa sejauh apa pun kaki melangkah, hati tetap akan kembali ke rumah.
Sejak tamat SMA, saya merantau. Empat belas tahun lamanya saya mengadu nasib. Dari Sabang sampai Merauke saya jajaki.

Saya tidur di tempat seadanya. Saya makan sekadarnya. Saya bekerja apa saja yang bisa saya kerjakan. Tetapi rezeki terasa begitu jauh.

Bukan hanya untuk mengangkat derajat keluarga, untuk menghidupi diri sendiri saja sering kali saya kesulitan.

Saya pernah berada di titik paling rendah dalam hidup. Merasa kecil. Merasa gagal. Merasa seakan-akan dunia tidak berpihak. Saya sering bertanya dalam diam,

“Ya Allah, di mana salah saya?”

Tahun 1990 saya menikah dengan seorang gadis di Samudra Pasai. Saya membangun rumah tangga dengan penuh harapan. Saya ingin menjadi suami yang bertanggung jawab, ayah yang membanggakan.

Namun kenyataan tak seindah harapan. Ketika anak saya berusia enam tahun, kehidupan kami sangat miris. Saya kerja serabutan siang malam. Panas terik saya hadapi. Hujan saya terobos. Tenaga saya peras habis-habisan. Tapi tetap saja, rezeki belum juga terbuka.

Sebagai laki-laki, sebagai kepala keluarga, ada rasa perih yang sulit dijelaskan ketika tidak mampu memberi lebih untuk istri dan anak.

Malam-malam saya lewati dengan pikiran yang kusut. Hati saya terasa sesak.
Sampai akhirnya, di satu titik, saya memutuskan pulang.

Saya ingin menemui kedua orang tua saya. Saat itu mereka masih hidup. Saya datang bukan membawa keberhasilan, bukan membawa kebanggaan. Saya datang membawa air mata dan rasa bersalah.

Saya sembah sujud di hadapan ayah dan ibu. Saya cium tangan mereka. Saya meminta maaf karena belum bisa menjadi anak yang berhasil. Saya mohon doa mereka. Saya memohon dengan hati yang hancur.

Dan di situlah saya merasakan sesuatu yang berbeda. Doa orang tua itu bukan sekadar kata-kata. Ia seperti cahaya yang menembus langit. Seperti pintu yang pelan-pelan dibukakan oleh Allah.

Alhamdulillah… setelah itu hidup saya mulai berubah. Tidak langsung kaya. Tidak langsung mudah. Tapi pelan-pelan, rezeki mulai lancar. Pekerjaan mulai tetap. Usaha mulai membuahkan hasil. Hati saya yang dulu gelap mulai terang.

Namun kebahagiaan itu bercampur dengan kesedihan ketika satu per satu orang tua saya dipanggil Allah. Saya tidak bisa lagi mencium tangan mereka. Tidak bisa lagi mendengar suara lembut ibu. Tidak bisa lagi merasakan nasihat ayah.
Yang tersisa hanya pusara.

Sejak saat itu, ziarah kubur bukan lagi sekadar tradisi. Ia menjadi pengingat bagi saya. Setiap berdiri di depan makam ayah dan ibu, dada saya selalu sesak. Saya teringat masa kecil. Teringat bagaimana mereka membesarkan saya dengan penuh pengorbanan.

Teringat bagaimana dulu saya sering membantah, sering merasa paling benar.
Kini, saya hanya bisa berbicara dalam doa.

Tahun 1999 hingga 2000, kehidupan saya sudah jauh lebih baik. Sampai hari ini, alhamdulillah kebutuhan keluarga tercukupi.

Saya bisa membeli mobil, bisa memberi yang layak untuk keluarga. Tapi setiap keberhasilan itu tidak pernah saya anggap murni hasil usaha saya.

Saya yakin, di dalamnya ada doa ayah dan ibu yang menembus langit.
Setiap tahun saya pulang untuk berziarah.

Saya berdiri lama di sana. Kadang tanpa sadar air mata jatuh. Di hadapan dua gundukan tanah itu, saya sadar… sehebat apa pun kita hari ini, akhirnya kita akan menyusul mereka.

Mobil, harta, jabatan, semua akan tertinggal. Yang ikut hanyalah amal.

Ziarah kubur mengajarkan saya satu hal: hidup ini sangat singkat. Kita sering sibuk mengejar dunia, tapi lupa bahwa tanah sudah menunggu.

Kita sering bangga dengan pencapaian, tapi lupa bahwa suatu hari nama kita hanya akan tertulis di batu nisan.

Pesan ini sebenarnya untuk diri saya sendiri. Bahwa suatu hari, saya pun akan berbaring seperti ayah dan ibu.

Menunggu doa dari anak-anak. Menunggu kiriman Al-Fatihah.
Maka sebelum waktu itu tiba, mari kita persiapkan diri.

Perbanyak kebaikan. Ringankan tangan untuk bersedekah. Jangan sombong ketika di atas. Jangan putus asa ketika di bawah. Dan yang paling penting, jangan pernah tinggalkan sholat.

Karena ketika napas berhenti, yang ditanya bukan berapa banyak harta yang kita miliki.

Tapi berapa banyak sujud yang kita lakukan.
Saya hanyalah anak yang dulu pernah merasa gagal, pernah merasa hina, pernah merasa tak berguna.

Tapi Allah mengangkat derajat saya lewat doa kedua orang tua.
Semoga ketika nanti saya menyusul mereka, saya dalam keadaan husnul khatimah.

Aamiin.

Sudarno

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *