14 Tahun Sebuah Perjalanan: Dari Lumpur dan Banjir, Sontang Bangkit Menuju Puncak

Uncategorized182 Dilihat


14 Tahun Sebuah Perjalanan: Dari Lumpur dan Banjir, Sontang Bangkit Menuju Puncak

Sontang,Rokan Hulu – Ulaskasus.com
Di tepian sungai yang tampak tenang namun kerap meluap saat hujan turun deras, berdirilah sebuah desa bernama Sontang.

Sebuah desa yang dulu lebih sering dikenal karena banjirnya daripada kemajuannya.

Sebuah desa yang jalannya pernah lebih banyak lumpur daripada aspal.

Empat belas tahun lalu, tepatnya 2012, masyarakat memberikan amanah kepada seorang putra daerah: Zulfahrianto.
Saat itu, tak ada panggung megah.

Tak ada seremoni besar. Yang ada hanyalah tanggung jawab — dan kenyataan pahit yang harus dihadapi.

Ketika Jalan Masih Tanah dan Harapan Masih Samar
Tahun-tahun awal kepemimpinan bukanlah kisah tentang gunting pita atau peresmian proyek.

Itu adalah kisah tentang sepatu anak sekolah yang selalu kotor oleh lumpur. Tentang kendaraan yang terperosok saat hujan turun.

Tentang ibu-ibu yang harus mengangkat kainnya agar tak terseret tanah becek.
Banjir datang seperti tamu tak diundang yang tak pernah benar-benar pergi.

Air naik perlahan, menutup halaman, lalu masuk ke rumah-rumah warga. Perabotan diangkat. Anak-anak dipindahkan ke tempat lebih tinggi.

Malam-malam panjang dilalui dengan cemas.
Di tengah semua itu, pembangunan terasa seperti wacana yang jauh dari kenyataan.

Namun justru dari kondisi itulah perjalanan dimulai.
Membangun dari Hal yang Tak Terlihat
Pembangunan tidak langsung hadir dalam bentuk beton dan aspal.

Ia lahir dari rapat-rapat sederhana. Dari diskusi panjang yang terkadang melelahkan. Dari pembenahan administrasi desa yang sebelumnya kurang tertata.

Lembaga-lembaga desa dihidupkan kembali. Kepercayaan masyarakat perlahan dirajut ulang.

Karena membangun desa bukan hanya soal fisik. Ia tentang membangun keyakinan bahwa perubahan itu mungkin.

Sedikit demi sedikit, arah mulai jelas.
Jalan yang Mulai Mengering dari Lumpur
Seiring waktu, peluang hadir.

Program pemerintah dimanfaatkan. Perencanaan diperkuat. Jalan yang dulu hanya tanah mulai diperkeras.

Titik-titik rawan genangan ditinggikan. Akses antar dusun diperbaiki.

Suara alat berat yang bekerja menjadi bunyi harapan baru.
Bagi orang luar, mungkin itu hanya proyek biasa.

Tapi bagi warga Sontang, itu adalah perubahan yang sangat lama ditunggu.
Petani tak lagi kesulitan membawa hasil kebun. Anak-anak pergi ke sekolah tanpa rasa takut terpeleset.
Aktivitas ekonomi perlahan bergerak lebih lancar.

Desa mulai bangkit — bukan dengan lonjakan besar, tetapi dengan langkah-langkah pasti.

Ujian Alam dan Keteguhan Kepemimpinan
Namun perjalanan tidak pernah benar-benar mudah. Beberapa kali banjir besar kembali datang. Air merendam jalan yang sudah dibangun.

Harapan sempat kembali diuji.
Di saat seperti itulah kepemimpinan tidak hanya dinilai dari proyek, tetapi dari kehadiran.

Gotong royong kembali menjadi kekuatan utama. Bantuan dikoordinasikan. Warga saling membantu.

Pemerintah desa tak tinggal diam.
Sontang belajar satu hal penting: pembangunan bukan berarti bebas dari ujian.

Pembangunan adalah kemampuan untuk bangkit setiap kali jatuh.

Lebih dari Sekadar Infrastruktur
Perubahan kemudian meluas. Aula desa dibenahi. Kegiatan sosial dan keagamaan kembali hidup. Pemuda mulai dilibatkan.
Pemerintahan desa semakin tertata.
Dan ada satu hal yang jarang diketahui publik.

Di luar dana desa dan bantuan pemerintah, kepala desa juga mengeluarkan dana pribadi demi mempercepat pembangunan dan membantu kebutuhan mendesak masyarakat. Bukan untuk pencitraan, tetapi karena rasa tanggung jawab terhadap kampung halaman.

Langkah itu mungkin tidak selalu terdengar, tetapi terasa bagi masyarakat.

2026: Menoleh ke Belakang, Melangkah ke Depan
Kini, memasuki 2026, Sontang bukan lagi desa yang sama seperti 2012.

Jalan lebih baik. Tata kelola pemerintahan lebih rapi. Pembangunan lebih merata hingga ke dusun.

Aktivitas masyarakat lebih hidup.
Tentu, masih ada kekurangan. Masih ada pekerjaan rumah.

Namun satu hal tak bisa dipungkiri: desa ini bergerak maju.
Empat belas tahun bukan waktu yang singkat. Ada kritik. Ada dukungan. Ada dinamika.

Tetapi sejarah akan mencatat bahwa perubahan tidak datang dari diam — melainkan dari keberanian memulai dan keteguhan melanjutkan.

Seperti pepatah lama:
“Berakit-rakit dahulu, bersenang-senang kemudian.”

Hari ini, Sontang mulai merasakan buah dari kesabaran panjang itu.
Di tepian sungai yang dulu lebih sering membawa kecemasan, kini berdiri sebuah desa yang lebih kuat, lebih tertata, dan lebih percaya diri.

Dan perjalanan itu dimulai pada tahun 2012, ketika seorang kepala desa memilih bukan hanya untuk menjabat — tetapi untuk berjuang.

Penulis
Sudarno

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *